LAST SONG
Atemonaku
hitori samayoi arukitsuzuketa
Kasuka
na toiki o tada shiroku somete
Hari ini turun salju. Putih bersih
dan murni. Suhunya begitu dingin, terbukti dari uap mulutku yang berembun.
Tapi, itu tidak membuat langkahku terhenti untuk datang ke suatu tempat. Ya,
kuburan. Aku datang untuk menemui sahabatku. Sahabatku… Yang… Sudah… 5 tahun
yang lalu meninggal…
Utsuri
kawari yuku kisetsu no sono hakanasa ni
Wake
mo naku namida ga koboreta
Sekarang, kuburan yang kucari sudah
kutemukan. Aku berhenti di depan kuburan atas nama 'Kururugi'. Ya, sahabatku
yang bernama Suzaku Kururugi. Seorang yang bodoh, keras kepala, tetapi baik dan
pengertian. Dialah yang telah membuatku terbangun dari kertepurukan setelah
kejadian 6 tahun yang lalu.
"Ima
mo aishite iru..."
Ya… 6 tahun yang lalu…
LAST
SONG
Disclamer
© CLAMP / SUNRISE.
For
song: GACKT – Last Song
NORMAL
POV
Di tengah keramaian malam hari di
pusat kota Tokyo, seorang remaja laki yang berumur sekitar 16 tahun berjalan
menelurusuri jalanan ramai di kota tersebut. Ya, walau jam sudah menunjukan
pukul 9 malam, keadaan masih ramai. Mengingat, malam itu adalah malam minggu.
Remaja laki-laki berambut coklat
dengan sedikit urak-urakan, berjalan dengan santainya dan tangannya dimasukan
ke kantung celana jeans-nya. Ia mengenakan stelan jubah coklat dan kaus
putih. Dengan kaca mata hitamnya, dia melirik suatu sudut dimana ada seorang
remaja berambut hitam yang diperkirakan seumur dengannya. Dia bermain gitar dan
menyanyikan sebuah lagu.
Lagu itu berhasil memikat hati
orang-orang yang menontonnya. Mereka pun memberikan sebagian uangnya untuk
orang itu. Sang remaja berambut coklat yang bernama Suzaku Kururugi itu,
mendekati tempat dimana remaja itu bermain gitarnya.
Remaja berambut hitam bermata ungu
tersebut menatap heran Suzaku. "Anu… Maaf, tuan…"
"Jangan panggil aku tuan!
Panggil aku Kururugi! Kururugi Suzaku! Kamu?" sapa Suzaku.
Objek bicara Suzaku tertunduk.
"Lelouch… Lelouch Lamperouge…"
Furitsuzuku
kanashimi wa masshiro na yuki ni kawaru
Zutto
sora o miageteta
Kono
karada ga kieru mae ni ima negai ga todoku no nara
Mou
ichido tsuyoku dakishimete
SUZAKU
POV
Lelouch Lamperouge…
Nama yang cukup asing ditelingaku.
Ya, sepertinya dia seorang imigran. Tapi, apa yang dia lakukan disini? Apalagi,
dengan gitar usang itu… Aku kasihan melihatnya. Tampangnya sedikit lusuh.
Padahal, wajahnya begitu tampan. Suara gitarnya sedikit fals, padahal suara
asli penyanyinya lumayan.
"Apa kau imigran gelap?"
tanyaku.
Ya, mengingat ayahku seorang perdana
menteri Jepang bernama Kururugi Genbu, masalah imigran begitu lekat dengan
diriku. Lelouch terus menatapku dengan heran. Dia membuang wajahnya.
"Bukan… Aku imigran yang sah… Cuma…"
"Cuma?"
Lelouch meneguk ludahnya. "Kami
tidak punya tempat tinggal."
'Kami?'. Lho? Dia kan sendirian di
sini. Atau, ada orang lain dibelakang sini. Ah, sudahlah… Aku kasihan melihat
dia berpenampilan begitu lusuh. Kuajak saja dia bermalam di rumahku hingga dia
mendapat rumah yang layak. Bukan di sebuah gang yang sempit dan kotor.
Kebetulan, aku tinggal sendiri di apartemen.
Aku menghela napas. Kulepas jaketku
dan memakaikannya ke tubuh Lelouch yang sedikit menggigil. "Ok, kubiarkan
kau tinggal di rumahku untuk sementara! Bahaya kalau kau tinggal di tempat
dingin seperti ini. Sekarang… Dimana temanmu yang lain?"
"Dia bukan temanku!"
jawabnya dengan tegas.
Dari nada jawabnya, sepertinya aku
salah ngomong. Dia pun memanggil seseorang. "Nunnally, kemari!"
Seorang perempuan berambut coklat
keriting panjang dan duduk di kursi roda. Matanya ungu besar dan cantik. Sama
seperti kakaknya. Dia memperkenalkan dirinya dengan sopan. "Nama saya
Nunnally Lamperouge. Adik dari Lelouch Nii-sama… Salam kenal, tuan
Kururugi!"
Adik? OMG… Cantik benar adik Lelouch
ini. Apakah benar-benar adiknya? Eh, tunggu… Kakaknya juga lumayan cantik, sih.
Kubayangkan. Kedua anaknya sudah cantik… Pasti, ibu mereka cantik. Ah? Suzaku!
Apa yang kau bicarakan? Sadar! Sadar!
"Ok, sekarang, ayo kalian ke
apartemenku! Aku tidak bisa membiarkan adik kakak yang baru sampai disini,
luntang lantung tanpa tujuan. Sekarang, ikut aku! Biar aku antarkan dengan
mobilku!"
Sesampai di sebuah gedung parkir,
aku membantu memasukkan barang mereka ke bagasi mobil. "Ok… Semua sudah
selesai! Sekarang, ayo, masuk ke mobil!" seruku.
Di punggungku, tergendong Nunnally
yang tidak bisa berjalan. Lelouch tidak kuat menggendong adiknya itu. Untung
tubuhku sudah lumayan kuat karena sering berolahraga. Maka, berolahragalah
kalian agar kuat!
Sesampai di sebuah apartemen,
Lelouch mengeluarkan kursi roda Nunnally dari bagasi dan aku membantu Nunnally
untuk duduk di kursinya itu. Setelah itu, Lelouch mengeluarkan tasnya dan
gitarnya. Aku mendorong kursi Nunnally dan masuklah kita ke sebuah lift.
Kutekan tombol lift lantai 5 dan tibalah kami di lantai tersebut. Kami berjalan
sedikit dan sampailah di sebuah kamar bernomor 524.
"Ayo, ini rumahku… Selamat
datang di rumah baru kalian!"
LELOUCH
POV
Rumah baru…
Inikah rumah baruku di Jepang?
Setelah aku melarikan diri dari
Britannia bersama adikku satu-satunya ke Jepang, kami tidak mempunyai apa-apa
selain dokumen, pakaian, dan uang beberapa yen. Untuk mempertahankan hidup
kami, aku mencoba bermain gitar di depan orang banyak saat malam hari di
Shibuya. Aku melihat dari video sebuah lagu, itu lumayan berhasil. Selain
berlatih vocal-ku, ya… Kami bisa mendapatkan beberapa yen dari hasil bermain
gitar itu.
Lalu, hari ini, aku bertemu dengan
orang ini. Ya, Kururugi Suzaku, anak dari perdana menteri Jepang. Sebenarnya,
pihak Britannia tidak suka dengan ayah dari Kururugi Suzaku itu. Tetapi, aku
tidak bisa membencinya karena kami sesama manusia. Manusia pasti berbeda ras
dan suku. Tapi, itu tidak bisa dijadikan alasan untuk memiliki perasaan
kebencian.
Kururugi-san menyuruhku untuk masuk.
Aku terbangun dari lamunanku dan mengangguk. Aku masuk ke dalam rumah yang
cukup rapi untuk seorang remaja pria berumur 18 tahun yang tinggal sendiri.
Saat aku selesai membuka sepatu, tiba-tiba wajah Kururugi-san sudah berada
tepat di hadapanku.
"E… Err… Kururugi-san?"
ucapku dengan perasaan gugup.
"Jika kau masuk ke rumah, kau
harus mengucapkan apa?"
"Err… Permisi?"
"Bukan! Kalau kau pulang ke
rumah sendiri, apa yang kau ucapkan?"
"Ta… Tadaima?"
Kururugi-san tersenyum. "Hm…
Okaeri, Lamperouge!"
Tadaima…
Kata-kata yang hanya digunakan
seseorang untuk masuk rumahnya. Tetapi, ini bukan rumahku. Ini rumah milik
Kururugi-san. Tiba-tiba, orang yang bersangkutan menengok. "Karena di
apartemen ini hanya ada 2 kamar, Lamperouge tidur di kamarku saja ya?"
Aku mengangkat alisku keheranan.
Daripada merepotkan pemilik rumah, lebih baik aku tidur di ruang tengah deh!
Tapi, Kururugi-san tetap memaksaku untuk tidur di kamarnya. Daripada sifat
ngototku berbuntut panjang, aku menyerah. Tetapi, itu berlaku mulai malam
besok. Untuk malam ini, aku menyuruh Kururugi-san saja yang tidur di kamar.
Kururugi-san mengacak-acak
rambutnya. "Errr… Terserah deh…"
Malam pertama di rumah Kururugi-san
terlewat…
Besok dan seterusnya… Bagaimana, ya?
Wakari
aenakute nandomo kizutsuketeita
Sonna
toki demo itsumo yasashikute
NORMAL
POV
Sudah sekitar 3 bulan Lelouch
tinggal bersama Suzaku di apartemen milik anak perdana menteri Jepang itu.
Nunnally juga dimasukan ke sebuah sekolah swasta terkenal, Ashford academy oleh
Suzaku. Lalu Lelouch, masuk ke sebuah universitas music oleh Suzaku. Kadang,
dia membantu Suzaku yang berkerja di engenerring. Sekarang, Nunnally dan
Lelouch sudah tidak memanggil Suzaku dengan nama keluarga. Mereka sudah saling
panggil dengan nama kecil.
Untuk masalah kamar, Suzaku satu
kamar dengan Lelouch. Dia berhasil mengalahkan sifat ngototnya Lelouch itu.
Untuk masalah kasur, paling cepat dia masuk kamar, dia akan mendapatkan kasur.
Kalau telat, tidur dibawah.
Nunnally yang telah selesai bersiap,
menyuruh kakaknya untuk mengantarkannya ke sekolah. Lelouch yang baru selesai
makan, mengangguk. "Ah… Ya, Nii-sama antarkan!"
Suzaku tiba-tiba berteriak.
"TUNGGU! LELOUCH!"
"Hm?" heran Lelouch.
"Kau mau menggunakan
mobil?"
Lelouch mengangguk. "Ya…"
"Aku saja yang antar Nunnally.
Untuk hari ini, kau gunakan saja motor, Ok?"
Lelouch mengangguk dengan penuh
keheranan. "O… Ok.."
Sesampainya di mobil, Suzaku
menundukan kepalanya dengan sandaran stir mobilnya. Nunnally yang merasa
kasihan dengan Suzaku, berusaha menghiburnya. "Kak Suzaku… Kau tak
apa?"
Suzaku mengangguk. "Ah, aku tak
apa! Aku hanya tidak bisa membiarkan Lelouch memakai mobil ini untuk turun ke
jalan dan mengantarkanmu ke sekolah!"
"Kenapa? Kakak sudah bisa
mengendarai mobil kan?"
Suzaku memasang wajah aneh. Entah
ingin tertawa, menghela napas, kesal, atau bagaimana. Dia menyandarkan kepalanya
di jendela. "Aku tak yakin itu dikatakan sudah bisa mengendarai mobil atau
belum. Mengingat… Di samping body mobilku ini ada garis. Dijamin,
mobilku ini pernah menyerempet tembok."
Nunnally melihat Suzaku dengan mata
ungu besarnya. Dia menepuk pundaknya. "Sabar ya, kak Suzaku…"
Di tempat lain dan waktu yang lain…
LELOUCH
POV
Hmmm… Kenapa ya, Suzaku menyuruhku
menggunakan motornya? Apa dia sudah nyadar dengan garis di mobilnya itu?
Arrgghh… Aku siap-siap dicincang!
Ah? Tunggu… Lebih baik aku buat
alasan yang bagus saja! Seperti, ada anak-anak yang menggariskan sesuatu dengan
benda tajam pada mobil itu! Kau pintar, Lelouch!
Langkahku terhenti di sebuah toko.
Aku melihat sebuah laptop yang bagus. Ah… Aku ingat, ulang tahun Suzaku kan
sebentar lagi? Aku juga baru ingat , dia tidak punya laptop. Errr…
Sebenarnya, dia punya. Tetapi, laptopnya sudah di lembiru –lempar, beli yang
baru- karena laptopnya itu dipipisi kucingnya. Tetapi, sampai sekarang, dia
belum beli lagi. Apa karena dia tidak punya waktu? Apa karena kesibukannya
sebagai manager sebuah pabrik besar, menghalanginya?
Ah, semoga Suzaku senang dengan ini.
Akan kubelikan sebagai hadiah ulang tahunnya!
SUZAKU
POV
Uuhh… Macet… Tumben-tumbenan disini
macet! Biasanya kan, tidak?
Waktu masuk kerjaku sih, masih cukup
lama… Sekitar satu jam lagi. Dan aku berencana untuk membersihkan ruang
kerjaku. Tak enak kan, jika ruanganku itu kotor saat kerja?
Aku melihat sekelilingku dan
menemukan sebuah toko. Ada sebuah gelang berwarna pink yang lucu. Ah, mengingat
ulang tahun Nunnally sekitar 2 bulan lagi, tidak ada salahnya aku membelinya
sekarang. Daripada kehabisan? Iya tidak?
Aku pun membelokkan mobil ke tempat
parkir dan kuparkirkan mobilku. Aku keluar dari mobil dan masuk ke toko itu.
Aku langsung melihat gelang yang mencuri perhatianku itu. Gelang pink dengan
manik-manik ungu. Cocok sekali untuk Nunnally. Aku pun membawa gelang tersebut
ke kasir dan membayarnya. Sebelum meminta untuk dikotaki, aku menulis secarik
pesan diatas kertas dan dimasukan ke dalam kotaknya. Setelah membayar dan
dibungkus, kubawa kotak itu ke dalam mobil dan menyimpannya di dashboard.
Semoga, gelang yang kuberikan pada
Nunnally ini, bisa dijaganya dengan baik.
Fui
ni watasareta yubiwa ni kizamareteita
Futari
no yakusoku wa kanawanai mama ni
LELOUCH
POV
Sekarang tanggal 7 Juli. Ulang tahun
Suzaku. Aku ingin memberinya kejutan. Ya, pulang kuliah, aku langsung memasak
masakan yang cukup spesial untuk Suzaku berupa rebusan sukiyaki. Disebelahnya,
sudah ada kotak dimana berisi laptop untuk Suzaku. Nunnally juga ingin
merayakan ulang tahun Suzaku. Bahkan, dia rela belum tidur padahal sudah jam 11
malam.
Tiba-tiba, pintu terbuka. Orang yang
membuka pintu masuk dan menyalakan lampu. "Aku pulang! Lelouch, Nunnally!
Kalian sudah ti…"
CRASSSS
"Tanjoubi omedetou,
Suzaku!"
Suzaku terdiam. Dia masih shock
dengan apa yang ia alami malam itu. Matanya memutih dan…
BRAAAKKK
"Kyaaa… Kak Suzaku!
Bertahanlah!"
SUZAKU
POV
Ya ampun… Aku terkejut sekali!
Bagaimana tidak? Jam 11 malam, ada yang menyalakan petasan di depanku? Errr…
Bukan petasan juga, sih…
Aku memegang kepalaku. Nunnally
langsung minta maaf. Aku mengangguk pelan. Tiba-tiba, Lelouch membawakanku kue
dengan lilin 19 diatasnya. Ah… Aku sudah 19 tahun hari ini… Tidak terasa, aku
sudah tua…
"Silakan membuat
permohonan!" seru Nunnally.
Aku membuat harapan dan meniup lilin
tersebut. Nunnally mengeluarkan sebuah kotak besar berbalutkan kertas kado
bewarna coklat dan memberikannya padaku. "Ini hadiah dari aku dan
Nii-sama…. Silahkan, Kak Suzaku!"
Aku membuka kotak tersebut dan
menemukan sebuah hadiah yang luar biasa. Ya, sebuah laptop. Benda yang
kuiinginkan.
"Kalian… Ini…"
"Ya! Laptop untukmu, Suzaku!
Selamat ulang tahun ya!"
"Tapi… Uangnya?"
Lelouch tersenyum. "Aku dan
Nunnally patungan dari uang tabungan kami! Pikir-pikir, uang hasil main di
Shibuya, gede juga!"
Tahun ini adalah tahun berhargaku.
Dimana saat aku ulang tahun, ada yang memberikan surprise dan kado. Tidak
sadar, dari pelupuk mataku, keluar secarik air mata. Lelouch dan Nunnally yang
melihat aku menangis, mulai panik.
"Kak Suzaku? Kenapa? Kau
kenapa?" panik Nunnally.
Aku menggelengkan kepalaku. Aku pun
memeluk mereka berdua. Kurasakan kehangatan dari tubuh mereka. "Tidak apa
kok… Aku hanya terharu… Sankyuu... Semuanya!"
Aku tidak yakin…
Apakah tahun depan…
Aku akan merasakan kehangatan saat
ulang tahunku ini…
Mengingat…
Aku….
Mempunyai…
Suatu penyakit…
"Ima
mo oboeteiru..."
NORMAL
POV
Sekarang, sudah bulan keenam Lelouch
dan Nunnally tinggal bersama Suzaku. Mereka ada rencana mau pindah. Tetapi, Suzaku
menyuruhnya untuk tetap tinggal. Lelouch dan Nunnally menolaknya dengan sopan.
"Kami sudah cukup lama merepotkan kak Suzaku… Jadi, kami akan tinggal
sendiri!" ucap Nunnally.
Suzaku menghela napas. Dia selalu
kalah jika Nunnally yang ngomong. Gakkan ada selesai kalau dia debat dengan
Nunnally. Sama saja seperti dengan kakaknya, Lelouch. "Ok… Tapi, biarkan
aku yang mencarikan rumah untuk kalian, ok?"
Nunnally dan Lelouch mengangguk.
SUZAKU
POV
Setelah mengantarkan Nunnally ke
sekolah, sekarang, giliranku menemani Lelouch untuk mencari rumah. Emang
gampang mencari rumah? Ya gak lah… Lelouch masih seorang mahasiswa. Dan
rata-rata, mahasiswa itu, nge-kost. Bukan tinggal di sebuah rumah pribadi
sendiri. Err… Mungkin pada bertanya padaku, kenapa aku tidak kuliah? Aku
sekarang kuliah kok! Cuma… Karena kesibukan di pabrik… Aku jarang masuk.
Lelouch kumasukan ke sekolah musik.
Ya, jurusan yang diambil, tentu jurusan musik modern. Pulang kuliah,
kadang-kadang dia membantuku di pabrik. Seperti menghitung pendapatan dan
strategi penjualan. Walau dia bukan lulusan sekolah management, kemampuan
berpikirnya begitu hebat! Lalu, kadang-kadang, dia suka bermain di Shibuya jika
dipanggil oleh teman-temannya (tentu aku menemaninya).
Nak… Aku bangga denganmu! *loh?*
Untungnya, sekarang pabrik sedang
diliburkan selama 3 hari. Libur tanpa alasan yang jelas! Apa karena kami memuat
prinsip, 'belum selesai, tidak ada libur!'.
Dari 2 bulan yang lalu, kami dikejar
deadline, sehingga, hari libur pun dibabat habis untuk kerja. Maka, sekarang,
kami diberikan libur selama 3 hari untuk istirahat. Aku yakin, para perkerja
sekarang sedang tidur di rumah mereka masing-masing dengan bantal kesayangan
mereka.
Sesampai di sebuah pameran property,
Aku dan Lelouch segera mencari rumah. Rumah yang kita cari hanyalah rumah
sederhana. Tidak mewah, juga tidak bobrok. Setelah berkeliling selama satu jam,
akhirnya, kami menemukannya. Rumah sederharna, 2 tingkat, harga murah, dan
jaraknya tidak teralu jauh dengan apartemenku serta sekolah Nunnally.
Tidak teralu jauh dengan
apartemenku…
Ya… Memang harus! Dia baru 6 bulan
di Jepang. Dia pasti masih bingung. Ke swalayan aja, dia tersesat! Haduh..
haduh…
Kok ucapanku kaya bapak-bapak
begini?
Aku duduk dan meminum sekaleng kopi.
Kebetulan, aku membelinya 2. Sehingga, kukasih satunya ke Lelouch yang mungkin
kecapean setelah sejam lebih keliling ruang pameran yang penuh dengan
orang-orang.
"Uuuh… Gak kuat… penuh
begini!" gumam Lelouch.
Aku tertawa. "Hahaha… Olahraga
lah! Dengan begitu, daya tahan tubuhmu meningkat!"
"Aku sudah cukup olahraga
dengan lari dari gerbang kampus hingga gedung falkutasku gara-gara telat."
Jawab Lelouch dengan dingin.
Aku hanya tertawa.
Tiba-tiba, pandangan Lelouch terarah
pada satu titik. Dia sedikit panic. Aku bingung dengan wajah kepanikannya,
berusaha menyadarkannya. "Lelouch… Kenapa?"
Lelouch langsung memalingkan
wajahnya dan bersembunyi di balik jaketku. Tiba-tiba, ada yang memanggilnya
dari belakang. "Ah? Lelouch?"
Lelouch memalingkan wajahnya.
"O… Otou-san?"
Otou-san? Orang itu ayahnya?
Pria berbadan besar berambut putih
dengan janggutnya, mendekati kami. Orang ini ayahnya Lelouch kan? Kenapa
Lelouch harus takut? Aku punya firasat gak enak dengan ini semua.
"Lelouch, ngapain kau
disini?" tanya ayahnya.
Lelouch hanya mengeluarkan keringat
dingin. Dia tidak menjawab pertanyaan ayahnya. Tangannya terus menggegam
jaketku. Ayahnya menghela napas. "Ikut ayah sekarang!"
Lelouch pun berdiri dan berjalan
mengikuti ayahnya. Sebenarnya, aku tidak boleh ikut campur urusan antar anggota
keluarga ini. Tapi, aku tidak bisa membiarkan sesuatu terjadi pada Lelouch.
Aku membuka teleponku dan memencet
beberapa tombol. Aku menelepon seseorang.
"Sayoko! Ini aku, Suzaku!"
"Ah? Suzaku-san? Ada apa?
Tumben anda menelepon!"
"Kau bisa jemput Nunnally, adik
Lelouch tidak?"
"Oh? Bisa…Saya bisa jemput
dia. Ada apa memang, Suzaku-san?"
"Aku dan Lelouch ada urusan
dulu. Jadi, tolong kau jaga Nunnally untuk hari ini. Langsung bawa dia pulang.
OK?"
"Baik!"
"Aku mengandalkanmu,
Sayoko!"
Aku pun menutup telepon yang menghubungkanku
dengan pelayan –sekaligus spy- ayahku. Orang bernama Sayoko itu sering
membantuku. Bahkan, saat aku sakit, dia yang mengurusku. Perempuan yang serba
bisa. Bahkan, dia bisa bela diri. Sungguh luar biasa memiliki seorang pelayan
seperti itu!
Aku pun memutuskan untuk mengintip
mereka dari kejauhan. Terlihat kalau Lelouch sedang didesak untuk kembali ke
Britannia. Lelouch menolak. Dia tidak mau kembali karena…
Eh…
Karena salah satu bangsawan
Britannia, membunuh ibunya?
Lelouch tidak pernah menceritakan
hal ini padaku. Kenapa dia pendam ini semua? Lelouch…
Tiba-tiba, dadaku sesak. Penyakitku…
Kenapa harus kambuh disaat seperti ini? Aku harus tahan! Kumohon… Jangan kambuh
dulu!
Tiba-tiba, Lelouch berteriak. Dia
tidak mau digiring kembali ke Britannia secara paksa. Aku yang mendengar,
keluar dari tempat persembunyian.
"Tunggu! Mau dibawa kemana,
Le-"
DEG…
Aku menggenggam dadaku. Sial… Kambuh
lagi…
Napasku terengah-engah. Lelouch
melihatku dengan tatapan iba. "Suzaku! Jangan kemari!"
Aku menggelengkan kepala. Dengan
pelan, ku berjalan mendekati Lelouch. "Tidak… Aku tidak akan…
Membiarkanmu… Dibawa… Secara paksa!"
"SUZAKU! JANGAN-"
"LELOUCH!"
Lelouch terdiam.
Ayah Lelouch dari belakang
memberikan perintah kepada bawahannya untuk menyerangku. Lelouch sudah
berteriak agar menghentikan ini semua. Tetapi, tidak didengar. Dia malah terus
dibawa secara paksa menuju sebuah mobil hitam. Aku yang saat itu sedang
mempertahankan diri dari serangan bawahannya ayah Lelouch itu, merasa sesak.
Dadaku sesak lagi dan tiba-tiba, gerakanku melambat. Otomatis, orang-orang yang
menyerangku, dengan mudah mengenai seranganku di titik sarafku. Orang itu
memukul leher belakangku. Aku yang mulai kehilangan kesadaran, perlahan menutup
mata, semua gelap. Ditambah dadaku yang sesak, menambah kesakitan hari itu…
Tidak…
Sakit di tubuh ini masih belum ada
apa-apanya dibandingkan aku tidak bisa menolong Lelouch…
"SUZAKU! SUZAKU!"
Ah… Lelouch…
Teriakanmu….
Tidak bisa kudengar…
Maaf…
Toozakaru
omoide wa itsumademo mabushi sugite
Motto
soba ni itakatta
NUNNALLY
POV
Jam sudah menunjukan pukul 3. Tidak
biasanya kak Suzaku dan Nii-sama telat menjemputku. Aneh sekali…
Pikir-pikir, aku punya firasat buruk
sejak tadi pagi. Aku benar-benar bingung. Aku takut sesuatu terjadi pada
keduanya.
Tiba-tiba, seorang wanita berambut
hitam pendek dengan baju pelayannya, datang mendekatiku.
"Nunnally-sama?"
Aku menggangguk. Aku ingat orang
ini. Dia adalah bawahannya kak Suzaku. Aku ingat dia dulu pernah datang saat
kak Suzaku sakit. Dia yang mengurus kak Suzaku yang tengah sakit demam dulu.
Namanya itu…
"Saya Sayoko, bawahannya
Suzaku-san. Saya hari ini disuruh menjemput anda!"
Ah? Menjemput? Lho, biasanya kalau
tidak kak Suzaku yang menjemput, pasti Nii-sama. Sekarang, kok Kak Sayoko. Aku
benar-benar punya firasat buruk akan hal ini.
"Anu… Kak Sayoko… Kak Suzaku
dan Nii-sama… Kemana?" heranku.
Kak Sayoko tersenyum.
"Suzaku-san ada keperluan yang sangat mendadak dengan Lelouch-sama. Jadi,
saya yang menjemput anda!"
Aku mengangguk pelan. Rasa
penasaranku terus menggulung di pikiran. Ya sudahlah… Aku hanya bisa berharap
semoga tidak terjadi apa-apa di keduanya.
NORMAL
POV
Kursi roda Nunnally di dorong di
jalanan kota oleh Sayoko. Sampai didepan sebuah gedung, mereka dikagetkan
dengan segerombolan orang-orang yang panik dengan sebuah ambulans yang
diparkirkan di depan gang itu. Nunnally yang penasaran, meminta Sayoko untuk
mendekati kerumunan orang itu untuk melihat apa yang terjadi.
Saat Nunnally melihat seseorang
diatas ranjang ambulan itu, dia kaget. Orang yang ada diatas ranjang itu adalah
orang yang ia kenal baik, Suzaku. Nunnally pun menerobos kerumunan orang dan
berhenti di depan pintu mobil ambulans.
"Anu… Bolehkah saya ikut di
mobil ini?" mohon Nunnally.
"Tunggu… Kau siapanya orang
ini?"
"Saya adiknya!"
Sayoko berdiri dibelakang Nunnally,
diperhatikan oleh dokter yang berada di mobil ambulans itu. "Kalau
kau?"
"Saya pelayannya
Suzaku-san…"
"Baiklah, kalian boleh ikut!
Tapi, harap tenang!"
Nunnally dan Sayoko pun, masuk
kedalam ambulans.
LELOUCH
POV
Hari sudah malam… Ah… Sudah 6 jam
aku disekap disini. Ayah menyebalkan! Seenak jidat menyekapku di pabrik bobrok
ini.
Ayah? Oh maaf…. Sudah tidak kuanggap
lagi dia sebagai ayahku. Semenjak, aku membuang nama 'vi Britannia' dari
namaku.
Dia hanya seorang pemimpin Britannia
yang kejam di depanku. Egois, bengis, dkk.
Aku hanya melihat langit malam
dimana bulan purnama bersinar. HPku disita oleh pria itu. Aku tidak bisa
mengetahui bagaimana keadaan Nunnally dan Suzaku…
Suzaku…
Aku ingat saat dia diserang oleh
bawahan pria itu. Dia… Tumbang…
Suzaku…
Kuharap… Kau baik-baik saja!
SUZAKU
POV
DEG…
Suara detakan jantungku…
DEG…
Ah… Syukurlah aku masih hidup…
Kubuka mataku. Aku menemukan
langit-langit yang asing di depan mataku. Tercium bau obat disekelilingku.
"Ah… Ini di rumah sakit
ya?"
Tiba-tiba, seseorang masuk dengan
kursi rodanya dan didorong oleh seorang maid. "Kak Suzaku! Syukurlah… Kau
sudah sadar!"
Aku melihat dengan penuh kelelahan.
Mataku berat. Kepalaku pusing. Leher belakangku sakit. Napasku sesak… Aku
menutup mataku dengan lenganku.
"Nunnally… Kepalaku…
Pusing…"
"Kak Suzaku ber-istirahatlah!
Biar nanti kuhubungi nii-sama untuk kemari…" ucap Nunnally.
Mendengar 'nii-sama', aku teringat
sesuatu. Aku langsung bangun dari kasurku. Aku melihat kearah jendela. Nunnally
mengangkat alisnya karena heran. "Kak suzaku kenapa?"
"Lelouch… Lelouch…"
Tiba-tiba, jendela rumah sakit
terbuka. Seseorang berdiri. Seorang pria dengan muka shota-nya. Dia
tersenyum. "Apakah kau Suzaku Kururugi?"
Aku mengangguk. Dia berjalan masuk
kedalam kamarku dan berhenti di sebelahku. Nunnally kaget. "Rolo
nii-sama?"
Nii-sama?
Rolo melihatku dengan tatapan
kejamnya. Aku sudah siap siaga dengan sebuah pisau perak digenggamanku.
"Apakah kau ingin menolong Lelouch nii-san?"
"Apa maksud-"
Rolo tersenyum. "Datang saja ke
pelabuhan di gudang ke 65. Disanalah, nii-san disekap oleh tuan Charles."
Pelabuhan? Ok… Aku tahu dimana!
Aku pun menarik selimut dari tubuhku
dan berlari menuju pintu. Nunnally tetap terdiam di kamarku bersama Sayoko dan
Rolo. Ya, aku percaya… Sayoko bisa menjaga Nunnally. Sekarang, aku harus
menyelamatkan Lelouch.
NUNNALLY
POV
"Rolo nii-sama… Kenapa kau ada
disini? Kenapa kau memberitahukan Kak Suzaku? Apakah itu bisa dipercaya?"
tanyaku.
Rolo nii-sama tidak bergeming. Dia
menatapku. "Aku tidak ingin menghancurkan hidup Lelouch Nii-san
lagi…"
"Benarkah? Apakah kau mau
memisahkanku dengan nii-sama lagi?"
"Bukan… Aku tahu maksud dari
tuan Charles menculik Lelouch nii-san!"
"Apa?"
"Membunuh Lelouch nii-san agar
tidak ada yang mengambil tahtanya sebagai raja!"
"Eh?"
SUZAKU
POV
Kuinjak dengan kencang pedal gas
mobilku. Kukendarai dengan kecepatan melebihi 80 km/jam melewati berbagai jalan
menuju pelabuhan. Walau dadaku begitu sesak… Itu tidak menghalangiku untuk
menolong Lelouch.
"Lelouch… Tunggulah! Aku… akan
segera menolongmu!"
Mou
nido to aenai kedo itsumo soba de sasaete kureta
Anata
dake wa kawaranai de ite
LELOUCH
POV
"Hanya begitukah? Kau hanya
tidak ingin anakmu yang tidak diharapkan kehadirannya ini merebut
tahtamu?" sinisku.
Pria yang berada di depanku hanya
tersenyum. "Ya! Jadi… Maukah kau memberikan nyawamu padaku sekarang?"
Aku tertawa. "Hmf… Konyol! Aku
mengakhiri hidupku selama 18 tahun ini dengan cara seperti itu? Jangan
bercanda!"
Pria itu sepertinya kesal. Terdengar
dari hentakan kakinya. Dia mengangkat tangannya dan salah seorang bawahannya
datang mendekatiku. Dengan cepatnya, dia memukul pipi kiriku dengan kencang.
Darah mengalir dari mulutku. Aku memasang wajah kasar saat melihat pria itu.
"Sudah bermain kasar,
hah?" remehku.
"Kau tidak akan merasakan
seperti ini jika kau menuruti perkataanku, Lelouch!"
Aku tetap memandangnya dengan wajah
kesal. Kalau tangan dan kakikku tidak diikat di kursi seperti ini, mungkin
sudah kuhajar dia, hingga wajah pria itu sudah tidak berbentuk. Ok… Sekarang,
mari kita bermain otak!
"Kalau tidak, bagaimana?"
Pria itu menyeringai. "Aku akan
membunuh sekarang!"
"Jika aku tidak mati?"
"Kau akan kumutilasi!"
"Memang kau sanggup melakukan
hal seperti itu pada darah dagingmu sendiri? Hmf… Tidak mungkin!"
Pria itu menyuruh bawahannya untuk
menendangku. Ya, bawahannya itu langsung melakukannya! Perutku ditendang
olehnya. Aku pun terjatuh ke belakang. Sial! Ikatan tangan dan kakikku menyatu
pada kursi! Tiba-tiba, pria itu berdiri di atasku dengan gergaji listrik di
tangannya. Ujung gergaji listrik itu sudah berada di atas tangan kananku.
"Kau bilang aku tidak bisa
melakukan hal seperti ini pada darah dagingku sendiri? Hmf… Kau salah!"
Sial… Perhitunganku salah!
Pemimpin Britannia itu mengangkat
gergajinya. "Kita mulai dari mana? Tangan, atau lehermu?"
Aku terdiam.
"Kalau begitu… Kita mulai
pelan-pelan dari tangan kananmu saja!"
Gergaji itu mendekati tangan
kananku. 5 cm… 4 cm… 3 cm… 2 cm… 1 cm…
DUAAKK
Suara seseorang diserang!
"Apa! Apa yang…"
BUAKKK
Beberapa penjaga pria itu, tumbang.
Seseorang dengan cepatnya, menyerang barikade bawahan pemimpin Britannia.
Tiba-tiba, orang itu meloncat dan memberikan tendangan pada 'ayah'ku itu. Dia
langsung memotong tali yang mengikat tubuhku.
"Lelouch… Ka… Kau tak
apa?" tanyanya dengan khawatir.
Ya! Yang berada di depanku ini
adalah Suzaku. Orang yang tadi siang diserang oleh bawahannya 'ayah'. Dia pun
membantuku berdiri. Dengan tangannya berada dibahuku, dia mulai kuda-kuda untuk
menyerang barikade penjaga.
"Suzaku! Kenapa kau ada
disini?" heranku.
Suzaku tersenyum. "Tentu
menolongmu… Lelouch!"
Menolongku?
Tubuhku diangkat oleh Suzaku. Dengan
bridal style, aku dibawa kabur olehnya dari kepungan penjaga.
Dengan cekatan, dia menghindar dari serangan para penjaga. Dengan cekatan, dia
melawan para penjaga. Dan, dengan cekatannya, dia menembak satu-satu penjaga
yang menghadangnya.
Tiba-tiba, 'ayah' mengacungkan
senjatanya pada arah kepala Suzaku. "Berhenti! Berikan anak itu padaku
atau kutembak ini ke kepalamu!"
Aku kaget. Aku pun menyuruh Suzaku
untuk menurunkan aku. Suzaku tidak mendengarnya. Dia malah berjalan mendekati
'ayah'. Tembakan pun diluncurkan. Tembakan pertama, Suzaku berhasil
menghindarinya dengan benar. Tembakan kedua, menyerempet pipi kanannya.
Tembakan ketiga, menyerempet rambutnya. Saat tembakan keempat mau diluncurkan,
Suzaku memukul tangan 'ayah' dan pistol itu pun terjatuh dari tangannya.
Dia mengangkat wajahnya dan memasang
wajah kesal. "CUKUP! Apakah kau tidak malu melakukan hal ini pada anakmu
sendiri? Jika kau tidak menginginkan dia, ya lepas saja! Biarkan dia melakukan
apa yang dia inginkan! Kalau kau merebut haknya untuk hidup, itu berarti kau
itu adalah seorang ayah yang gagal! Kau ayah yang pengecut!"
Suzaku…
Dipukulah wajah 'ayah'. Suzaku
membalikan tubuhnya dan membawaku keluar pabrik usang itu. "Tolong… Jangan
ganggu kehidupan Nunnally dan Lelouch mulai sekarang!"
Di tengah jalan, Suzaku menurunkanku
dari gendongannya. Aku mengangguk untuk berterima kasih. Suzaku tersenyum.
"Apakah kau terluka?"
Aku menggelengkan kepalaku. Tapi,
tangan kananku langsung diambil olehnya. Dia melihat sebuah luka di tanganku
akibat gergaji tadi. Beruntung, cuma menyerempet permukaan kulit saja. Tapi,
darah segar tetap mengucur dari luka itu. Suzaku mengeluarkan sapu tangannya
dan menyuruhku untuk menahan pendarahan dengan sapu tangan itu.
Sesampai di mobil, Suzaku mengambil
sebotol air mineral dan dilumuri di atas lukaku. Aku merasa sedikit pedih
akibat reaksi antara air dan lukaku. Setelah bersih, Suzaku mengikatkan sebuah
handuk kecil yang dikeluarkan dari tas yang suka ia bawa untuk olahraga pulang
kerja. Dibalutlah handuk tersebut di tanganku yang terluka.
Setelah itu, dia membersihkan luka
yang berada di sekitar bibirku. Dia tertawa. "Haha… Kau seperti terbentur
meja saja!"
Aku memalingkan wajahku dan memegang
tangannya untuk memberhentikan dia membersihkan lukaku. "Ah… Diam! Kalau
terbentur meja, enggakkan bengkak gede begini!"
Suzaku tertawa kecil. Setelah
selesai memasang plester, Suzaku memegang pundakku. "Lelouch…"
"Hm?" polosku.
Tiba-tiba, Suzaku menarikku dalam
dekapannya. "Lelouch… kalau kau punya masalah… Kau bisa ceritakan padaku!
Kau… Bukan orang lain… tapi, kau sudah seperti keluargaku sendiri…"
Keluarga…
Aku menutup mataku dan memeluk
kembali Suzaku. "Sankyuu… Suzaku!"
Sesampai di apartemen –yang
sebelumnya, Suzaku ditelepon kalau Nunnally sudah pulang-, kedatangan Lelouch
disambut dengan hangat oleh Nunnally. Dia memeluk kakaknya. "Nii-sama! Kau
kembali!"
Aku memeluk dan tersenyum. "Ah~
Aku pulang!"
Aku pun membawa Nunnally ke ruang
tengah dan duduk di sofa. Aku dan Suzaku duduk disebelah Nunnally. Aku bertanya
pada Suzaku. "Kenapa kau bisa tahu tempat aku berada?"
Suzaku tersenyum. "Aku
mengetahuinya dari seseorang… Kalau tidak salah… Namanya… Rolo" jawabnya
dengan napas lemah.
Nunnally merasa khawatir pada
Suzaku, bertanya mengenai keadaannya. "Kak Suzaku… Kau tak apa?"
Suzaku mengangguk.
Aku hanya bisa memanggut-manggut
daguku. Semua menatapku dengan heran. "Kenapa, Lelouch?"
"Ah… Bukannya Rolo sudah meninggal
semenjak sebulan yang lalu? Kok… Kalian bisa bertemu dengannya?"
Suzaku dan Nunnally saling menatap
satu sama lain. Lalu, tibalah saat mereka berteriak. "KA… KALAU BEGITU…
YANG KITA LIHAT ITU… HANTU?"
"Maybe~" jawab dinginku.
Suzaku dan Nunnally saling panik
sendiri. Aku hanya melihat langit malam dari jendela apartemen. Aku tersenyum.
Terima kasih… Rolo…
Saigo
ni miseta namida ga kisenakute
NORMAL
POV
Sudah hampir setahun, Lelouch dan
Nunnally berada di Jepang. Dan sudah hampir setahun, mereka berteman dengan
Suzaku. Tetapi, selama pertemanan itu, Lelouch merasa sesuatu terjadi pada
Suzaku. Ya, semenjak penculikannya beberapa bulan yang lalu, Suzaku sering
mengeluh kalau dia sakit dada dan sulit bernapas.
Tapi, itu selalu disanggah oleh
orang bersangkutan. Dia bilang kalau itu hanyalah gara-gara kecapean.
Lelouch dan Nunnally hanya bisa
pasrah.
Sekarang tanggal 4 Desember. Besok
adalah ulang tahun Lelouch. Ya, bulan Desember identik dengan salju. Dan,
dengan bangganya, salju sudah mulai turun dan suhu berubah dratis menjadi
dingin. Hari itu hari Sabtu. Suzaku mengajak Lelouch untuk pergi ke suatu
tempat nanti malam.
Lelouch tahu kalau Suzaku baru
sembuh sakit. Awalnya, dia menolak. Tetapi, keluarlah sifat keras kepala
Suzaku. Lelouch menghela napas. "Ok deh… Nanti malam kita pergi ke tempat
yang kau mau!"
Suzaku mengangguk. Dia pun
memberitahukan kalau dia akan menjemput Lelouch jam 8 malam. Lelouch hanya bisa
menjawab "Ya…"
Jam menunjukan pukul 8. Suzaku sudah
siap di depan rumah Lelouch dengan pakaian lengkapnya. Dia mengenakan syal,
jaket tebal, celana jeans, dan sepatu olahraga. Tidak ketinggalan, motor yang
menjadi kebanggaannya.
Lelouch mengangkat alisnya saat
melihat penampilan Suzaku. Padahal, dirinya hanya mengenakan kemeja putih,
rompi biru, sweater hitam, celana hitam, dan sepatu biasa. Suzaku benar-benar
siap siaga agar penyakitnya tidak kambuh.
"Nii-sama, hati-hati!"
ucap Nunnally.
Lelouch mengangguk dan dijalankanlah
motor tersebut oleh Suzaku yang berada di depannya.
Dengan cekatan, Suzaku melewati
rentetan kendaraan roda empat atau lebih. Dia mengendarai motornya kearah
sebuah bukit.
Akhirnya, setelah perjalanan sekitar
20 menit, mereka sampai di tempat tujuannya.
"Nah, kita sudah sampai,
Lelouch!" ucap Suzaku sambil mematikan motornya.
Lelouch turun dari bangku penumpang
dan membuka helm-nya. Dia melihat kearah dimana tangan Suzaku menunjuk. Ya,
terlihat pemandangan yang begitu mengasyikan. Taburan bintang-bintang yang
bercahaya dibawah langit malam yang gelap.
Selagi Lelouch masih terpukau
melihat keindahan langit tersebut, Suzaku mendorong Lelouch dan mereka berdua
terjatuh ke padang rumput dibawah mereka. Setelah mereka terguling cukup jauh,
mereka merebahkan dirinya di padang rumput yang cukup landai itu.
Napas Lelouch terengah-rengah karena
dia pikir, dia akan terus menggelinding . Suzaku duduk dan tersenyum. Wajahnya
sedikit pucat. Lelouch melihat Suzaku dengan heran. "Suzaku… Kau… Kenapa…
Pucat begitu?"
Suzaku tertegun. "Ah? Gak apa
kok! Aku cuma sedikit kecapean! Hehe…"
Lelouch tersenyum. "Sudah
kuduga… Kau sudah kuliah, mengurus pabrik besar, pulang malam, menemani mengisi
malam minggu di Shibuya dengan bermain musik. Pasti, ada waktunya kau tumbang!
Hahaha…"
Suzaku tertawa kecil. "Haha…
Itu semua… Untuk saat-saat terakhir…"
Ucapan Suzaku terhenti. Lelouch
mengangkat alisnya. "Terakhir?"
Suzaku menggelengkan kepalanya.
"Ti… Tidak ada apa-apa! Ya sudah, kau senang diajak kesini kan?"
Kono
shiroi yukitachi to issho ni kiete shimattemo
Anata
no kokoro no naka ni zutto saite itai kara
LELOUCH
POV
"Ti… Tidak apa-apa! Ya
sudah, kau senang diajak kesini kan?"
Aku tahu, ucapan Suzaku itu memuat
banyak sekali kebohongan. Aku tahu, dia menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi,
jika kutanya apa yang dia sembunyikan, dia pasti tidak akan memberitahukannya
padaku. Aku tahu, dia itu keras kepala! Dia menompang semua masalahnya sendiri
tanpa melibatkan orang lain.
Suzaku melirik padaku. "Oi,
jawab donk! Kau senang gak?"
Aku bangun dari lamunanku. "Ah?
Ya… Aku senang kok!"
Aku melihat ke langit lagi. Begitu
indah dan mempesona. Jarang-jarang menemukan tempat yang pas untuk melihat
langit malam seperti ini. Mengingat, jaman sekarang banyak polusi cahaya.
Tiba-tiba, Suzaku mengeluarkan IPod-nya dan membuka sebuah dokumen. Terlihat di
layar IPod-nya sebuah tulisan. Aku yang penasaran, bertanya pada Suzaku.
"Suzaku… Itu…"
Suzaku mengangguk. "Ya… Ini
lagu kesukaanku. Aku ingin kau coba menyanyikan lagu ini di depanku."
Suzaku memberikan IPod-nya agar bisa
dibaca dengan jelas olehku. Sifat ngototku mulai bangun.
"Kenapa harus Last Song?"
ngototku.
Suzaku terdiam. "Karena…
Waktuku sudah tak lama lagi…"
"Eh?"
Angin berhembus. Suzaku menatapku
dengan tatapan yang berbeda dengan biasanya. Senyumannya yang terlihat sangat
lembut dan innocent. Rambutnya menutupi sebagian mata hijaunya. Aku
keheranan melihat Suzaku seperti itu. Biasanya, dia keras kepala. Tapi,
sekarang… Kok… Lembut begini?
Suzaku merangkak diatasku. Wajahnya
didekatkan dengan wajahku. Aku sedikit heran dengan kelakuannya yang berubah.
"Su… Suzaku…"
Suzaku mendekatkan wajahnya lebih
dekat sehingga mata kami saling bertemu. Aku menutup mataku. Apakah dia akan
menciumku? Tetapi, yang kurasakan malah berbeda dengan perkiraanku itu. Tubuhku
terasa berat dan napas Suzaku berada di leherku. Aku membuka mataku dan melihat
kalau Suzaku sudah rubuh diatas tubuhku.
"Su… Suzaku! Kau kenapa?"
Aku merebahkan tubuh Suzaku.
Napasnya terengah-engah dan batuk-batuk. Aku mengeluarkan segelas air mineral
dari tasku untuk diminumnya. Suzaku berhasil meminumnya dan menarik napas
dalam-dalam. Dia memejamkan matanya dan berusaha menyeimbangkan napasnya.
Tubuhnya memerah dan sedikit demam. Aku memutuskan untuk membawanya ke rumah
sakit. Tetapi, Suzaku menolaknya.
"Ti… Tidak usah… Lelouch… Aku…
Baik-baik… Saja!"
Akhirnya, kesabaranku habis. Aku
memarahi Suzaku. "SUZAKU! TOLONG HILANGKAN SIFAT KERAS KEPALAMU ITU! Aku
lelah mendengar ocehan keras kepalamu itu! "
Suzaku terdiam. Dia melihatku dengan
tatapan heran. Tetapi, tatapan herannya berubah menjadi senyuman. "Kau benar-benar
teralu baik… Lelouch…"
"Hah?"
Ya, aku begitu heran dengan
ucapannya. Ucapannya begitu berbeda –dari nada yang biasa dia gunakan-. Suzaku
bangun dari tempat duduknya dan membenarkan syal-nya. Wajahnya memerah dan aku
yakin dia kena demam. Sesampai di tempat motor Suzaku di parkir, aku ngotot
agar aku yang membawanya. Tetapi, Suzaku tersenyum. Aku tahu maksudnya dan
hanya tertunduk. Aku menghela napas.
"Baiklah… Kau saja yang
bawa…"
Setelah aku duduk di bangku
penumpang, Suzaku langsung mengendarai motornya menuju arah pulang. Ya, pertama
dia akan mengantarkanku ke rumah. Kuingatkan kembali, jarak rumahku dengan
rumah Suzaku sekitar 2.5 km. Bisa dikatakan, cukup dekat bukan?
Setelah sampai di depan rumahku,
Suzaku memberhentikan motornya. Aku pun turun dari bangku penumpang dan
melepaskan helm-ku. "Sankyuu… Suzaku!".
Suzaku mengangguk. Sebelum pergi,
dia memberikan sesuatu. "Oh ya, aku titip IPod ku donk!"
Aku mengangkat alis heran. "Hm?
Kenapa dititipin?"
"Aku yakin, kau penasaran
dengan Last song itu kan? Nih, bawa aja! Buat bahan
referensi…"
Aku mengangguk dan menerima IPod
hitam itu. Suzaku tersenyum. Dia pun menjalankan motornya. "Titip salam
untuk Nunnally ya!"
Aku tersenyum.
Sesampai di dalam rumah, aku membuka
sepatuku dan mengucapkan salam. Ya, tidak ada jawaban karena Nunnally sudah
tidur duluan. Jam sudah menunjukan pukul setengah 12. Aku masuk ke dalam
kamarku yang berada di lantai 2. Kubuka jaketku dan aku merebahkan diri di
kasur. Aku mengambil earphone di meja sebelah kasurku dan
menyambungkannya ke IPod Suzaku.
Kupencet link yang
menghubungkanku dengan lagu 'Last Song'. Terdengar suara Gackt yang begitu
lembut. Aku membaca lyricnya yang kebetulan dimasukin oleh Suzaku. Lagunya
begitu romantis dan sedih. Apa maksudnya Suzaku memberikan lagu ini padaku?
Atau… Jangan-jangan… Dia…
SUZAKU
POV
Kujalankan motorku ditengah
kegelapan kota. Jalannan begitu sepi karena saat itu, jam menunjukan pukul 12
malam kurang. Apartemenku tinggal beberapa meter lagi. Dadaku sudah mulai sakit
lagi. sampai di rumah, aku langsung beristirahat agar besok, aku bisa merayakan
ultah Lelouch!
Ultah lelouch?
Aku hanya bisa terkikik
mengingatnya.
Tiba-tiba, di depan mataku terjadi
kecelakaan besar. Truk yang berada di depanku, ditabrak oleh truk lainnya dari
arah berlawanan.
Gawat! Aku harus menghindar! Kalau
tidak…
BRAAAKKK
KRAAAKKK
DUAK
Uh… Kepalaku…
Aku… Kenapa… Kepalaku… Sakit…
Darah… Mengalir…
Kepalaku…
Pandanganku buram. Aku mengambil
HPku yang terlempar ke depan wajahku. Kutuliskan beberapa kata di e-mail yang
kutunjukan pada seseorang. Aku hanya sanggup menulis 4 kata. Kesadaranku sudah
semakin menurun. Mataku semakin berat. Kupencet tombol kirim. Setelah itu, aku
tersenyum dan menutup mataku.
Lelouch… Sayonara…
Yorisotte
dakiatta nukumori wa wasurenaide ne
Chigau
dareka o aishitemo
Saigo
ni kiita anata no koe o kono mama zutto hanasanai mama
Fukaku
nemuri ni ochitai
LELOUCH
POV
DEG…
Perasaan aneh apa tadi? Mengapa
dadaku berdegup dengan kencang? Aku punya firasat buruk. Tiba-tiba,
kegundahanku terpecahkan oleh suara e-mail HPku. Kubuka HP itu dan melihat
kalau e-mail tersebut dari Suzaku.
"Tumben Suzaku mengirim e-mail
jam segini?" heranku.
Kubaca e-mail tersebut. Bertuliskan…
From: Suzaku Kururugi (23.58 )
Subject: -
Lelouch…
Otanjoubi omedetou…
Gomen ne…
Aku terdiam melihat e-mail dari
Suzaku. Entah kenapa, air mataku keluar. Padahal, tidak ada apapun yang membuat
aku sedih. Hanya lagu slow yang kudengar ini, yang membuat hatiku
gundah. Apa, karena cara penulisan e-mail Suzaku yang berbeda ini? Lelouch…
Yakinlah! Tidak ada yang terjadi pada Suzaku!
Aku pun membalas e-mail itu.
"Sankyuu… Suzaku… Oyasumi!"
Aku menyimpan HPku setelah membalas
e-mail Suzaku. Kumatikan lampu kamarku dan aku pun pergi tidur. "Suzaku…
Kuharap… Kau tak apa-apa…"
Paginya, aku bangun cepat. Ya, aku
tidak bisa tidur semalam. Saat melihat kalender, aku ingat kalau hari itu
adalah hari ultahku. Aku tersenyum kecil karena aku sudah mendapatkan ucapan
selamat dari Suzaku. Dia juga orang pertama yang mengucapkannya. Aku pun
berjalan ke kamar mandi karena hari itu, aku ada janji bersama Suzaku untuk
pergi makan bertiga dengan Nunnally.
Setelah mandi, aku berjalan
menelurusuri tangga dengan handuk di kepalaku. Pakaianku masih berupa kaos dan
celana hitam panjang. Sekarang, aku pergi ke ruang tengah untuk sarapan.
Tiba-tiba, aku dikagetkan dengan Nunnally yang sudah gemetaran di depan TV yang
menayangkan sebuah kecelakaan. Aku mendekatinya dan bertanya tentang apa yang
terjadi.
Tetapi, Nunnally tidak menjawabku.
Dia malah menarik kaosku dan menangis. Aku mengelus-elus rambut coklatnya dan
melihat ke TV. Terlihat sebuah judul berita yang bertuliskan 'Kecelakaan
Beruntun'.
"Kecelakaan beruntun ini
terjadi malam dini hari tadi. Kecelakaan ini melibatkan 2 truk besar dan 1
motor. Diduga, salah satu truk dari arah berlawanan oleng dan menabrak truk
yang sedang melaju di arah lawannya. Truk yang membawa muatan terigu itu,
ditabrak dan sempat terdorong ke belakang dimana sebuah motor sedang melaju.
Sang pengendara motor, tidak bisa menghindar dan tertabrak truk tersebut
sehingga terpental sejauh 10 meter. Motor yang dikendarainnya hancur tak
berbekas. Sedangkan sang pengendara motor, meninggal seketika di TKP karena
pendarahan hebat akibat benturan dengan pembatas jalan. Diketahui, nama korban
tewas itu adalah Kururugi Suzaku, anak dari perdana menteri Jepang, Kururugi
Genbu."
Mataku terbelak-lak. Mendengar nama
yang tidak asing dari korban tewas kecelakaan itu. Ya, Kururugi Suzaku. Orang
yang semalam membawaku ke bukit. Orang yang mengucapkan 'tanjoubi omedetou'
pertama padaku. Sekarang, sudah tewas? Aku tidak percaya ini! Aku ingin melihat
Suzaku dengan mata kepalaku sendiri! Aku pun berlari menuju pintu keluar.
Tiba-tiba, adikku berteriak. "NII-SAMA! KAU MAU KEMANA?"
"AKU MAU KE RUMAH SAKIT! AKU
TIDAK PERCAYA! AKU HARUS MELIHAT SUZAKU DENGAN MATA KEPALAKU SENDIRI!"
"AKU IKUT!"
"Tapi… Nunnally…"
"Kak Suzaku… Kak Suzaku adalah
orang berharga bagiku juga! Biarkan aku melihatnya juga, nii-sama!"
Aku terdiam. Aku pun mengangguk.
"Baiklah! Ayo kita pergi!"
Setelah mengunci pintu rumah, aku
membawa Nunnally ke mobil. Aku pun mengendarai mobil tersebut dengan cepat
menuju rumah sakit.
Sesampai di rumah sakit, aku
mendorong kursi roda Nunnally dan pergi ke meja resepsionis. "Suzaku…
Dimana ruangan Suzaku Kururugi?"
Sang penjaga menunjukan sebuah arah.
"Di ruangan autopsy sebelah sana, tuan Kururugi berada…"
Aku pun langsung membawa Nunnally ke
ruangan tersebut. Saat aku membuka pintu, tercium bau darah. Aku menyuruh
Nunnally untuk tinggal di luar. Nunnally sebenarnya ngotot ingin ikut. Tapi,
aku tidak yakin dia akan sanggup menerima kenyataan. Aku takut dia shock. Aku
pun mengusap-usapkan kepalanya. "Biar Nii-sama saja yang lihat! Ok?"
Nunnally menyerah dan mengangguk.
Aku masuk ke dalam. Bau darah tercium kemana-mana. Aku menutup hidung dan
mulutku. Saat sampai di sebuah kasur dengan seorang dokter yang baru selesai autopsy,
aku ditanya oleh seorang asisten dokter tersebut. "Siapa kau?"
"Aku… Sahabatnya Suzaku…"
"Suzaku? Maksudmu, orang ini?
Ah? Kamu itu Lelouch ya?" ucap suster itu.
Aku mengangguk. Suster itu terlihat
kaget. Dia berjalan menuju sebuah laci dimana terdapat sebuah kotak dengan
bungkus kado bewarna ungu. Di atasnya, terdapat pita dengan tulisan 'for
Lelouch'.
Aku membuka kotak dengan namaku
diatasnya itu. Terlihat sebuah jam tangan bewarna perak. Perkiraan, jam
tersebut harganya cukup mahal. Dan, itu memang jam yang kuinginkan. Di
dalamnya, ada secarik kertas yang bertuliskan…
Untuk Lelouch.
Tanjoubi omedetou Lelouch! Ah,
sekarang kau sudah 19 tahun ya? Hahaha… Tidak kerasa, sudah hampir setahun kita
hidup bersama bertiga dengan Nunnally. Semenjak aku bertemu kalian, hidupku
tidak terasa hampa lagi. Sankyuu ya, Lelouch!
Sebenarnya, aku kabur dari rumah
karena aku bertengkar dengan ayahku. Yah… Hitung-hitung, aku belajar hidup
mandiri. Beruntungnya, aku sudah menjadi manager ya… Jadi, untuk taraf hidup
kita bertiga, sudah cukup! Hhe…
Ah, aku rasa hidupku sudah tidak
lama lagi. Mengingat, aku mempunyai… Ah… Sudahlah, aku tidak ingin membuatmu
khawatir! Suatu saat, cepat atau lambat, kau akan mengetahuinya.
Bagaimana jamnya? Kau suka kan? Aku
ingat dulu kau langsung terpesona melihat jam tersebut. Ya, semoga dengan jam
ini, kau bisa terus berkarya! Aku terus mendukung apa yang kau lakukan selama
itu positif! Ganbatte, Lelouch!
Ya sudah, kayanya… Aku menulisnya
kepanjangan ya? Sekarang… Jaga baik-baik kado ini ya…
Ini special dariku untukmu…
Suzaku
PS: Kau adalah…
Mataku mengeluarkan air mata. Aku
tidak bisa membendung rasa sedihku ini saat melihat pesan terakhirnya. Suzaku
sudah tahu kalau hidupnya itu sebentar lagi. Berarti… Yang berada di kasur ini
adalah… Suzaku?
Untuk membuktikan rasa penasaranku,
aku membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh orang yang ada diatas kasur
tersebut. Saat dibuka, aku kaget. Ternyata, orang yang memberikanku jam perak
inilah yang terbaring disana. Matanya tertutup rapat, tampangnya begitu tenang,
tidak ada denyut nadi, dan tidak ada tanda-tanda kehidupan.
Aku memegang tangannya dan menangis.
Orang yang telah menjadi sahabat pertamaku di Jepang. Orang yang telah
membantuku bangun dari keterpurukan. Sekarang, sudah terbujur kaku di depanku.
Tubuhnya dingin. Aku terus memanggil namanya dan berharap ada keajaiban dimana
dia akan bangun. Tetapi, tidak ada keajaiban dimana seorang manusia yang telah
meninggal, hidup kembali. Sekeras apapun aku memanggilnya, dia tidak akan
bangun.
Akhirnya, kesedihanku memuncak saat
aku berteriak namanya. Air mataku jatuh membasahi pipiku. Tangan Suzaku yang
dingin itu, kudekatkan dan kugenggam dengan erat di pipiku. "Suzaku…
Kenapa… Kenapa… KENAPA KAU MENINGGALKANKU! KENAPA?"
Dokter dan suster berusaha
menenangkanku. Tubuhku diangkat dan menjauhkanku dengan Suzaku. Aku meronta-ronta
untuk dilepaskan. Tetapi, mereka tidak membiarkanku. Bahkan, adikku sendiri
menyuruhku untuk berhenti memanggil nama 'Suzaku'. Aku… Aku benar-benar… Tidak
ingin kehilangan Suzaku.
"Padahal… Tadi malam… Kau masih
memberi selamat ulang tahun padaku…"
Benar-benar…
Tidak ingin kehilangannya…
Kenapa di hari yang seharusnya, aku
bisa bersama dengannya…
Malah harus kehilangannya?
Tidak adil! Ini… Ini tidak adil!
TIDAK ADIL!
"SUZAKU!"
Keesokannya, setelah pemakaman. Aku
berdiri di depan makam sahabatku itu. Adikku hanya bisa melihatku dengan
tatapan sedih. Dia ikut sedih dengan apa yang dialami olehku. Dia berusaha
menghiburku dengan menggenggam tanganku agar aku tidak merasa kesepian. Dengan
gelang bewarna pink pemberian Suzaku di tangannya, dia menggenggamku. Aku hanya
bisa menatap kosong. Kuingat masa dimana aku bersamanya selama setahun. Dimulai
dari dia membangunkanku dari keterpurukan hingga aku bisa hidup mandiri seperti
sekarang.
Aku mengeluarkan IPod yang dia
titipkan padaku. Aku membuka sebuah file dimana dia menyimpan lyric last
song, lagu yang ia suka. Aku pun mulai menyanyikannya dengan pelan dan
dengan harapan dia bisa mendengar suaraku itu.
Furitsuzuku
kanashimi wa masshiro na yuki ni kawaru
Zutto
sora o miageteta
Kono
karada ga kieru mae ni ima negai ga todoku no nara
Mou
ichido tsuyoku dakishimete…
…
-END
OF FLASHBACK-
Aku melihat keatas dimana salju
turun. Sudah 5 tahun semenjak aku menyanyikan lagu itu. Dan hingga sekarang,
satu kalimat terakhir belum kuucapkan hingga sekarang di depan makam Suzaku.
Aku tidak sanggup menyanyikannya lagi walau itu cuma tinggal 1 kalimat lagi.
Air mataku keluar. Semua itu membuatku sedih.
Itu adalah lagu yang ia persembahkan
untukku untuk terakhir kalinya. Dan dia ingin, mendengarkan aku bernyanyi lagu
ini.
"Suzaku…"
Aku meneguk ludahku dan mulai
menyanyikan lyric terakhir dari Last song tersebut…
"Mou
ichido… Tsuyoku dakishimete…"
"Suzaku…"
"Selamat jalan…"
*END*
# diceritakan oleh Laviran-Empingran-Nightray, ku dedikasikan untuk orang2 yang menyayangi sahabatnya dengan setulus hati..^.^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar