Rabu, 14 November 2012

Cerita dalam hujan


“Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung,maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.” (Al Qur’an, 24:43)

Hari ini, hujan turun begitu derasnya. Kubiarkan hawa dingin memelukku begitu erat dan biarkan setiap tetesnya basahi tubuhku. Aku tak peduli. Yang ku ingin, hanya resapi setiap bulirnya, dan lupakan semua permasalahan hari ini yang tidak ada habisnya..karena yang ku tau, hujan adalah senyum yang menghidupkan kehidupan.
Ku tatap jalan dengan hati-hati. Menanti.
Kurasakan jiwaku menari.
Hujan. Rangkul aku, basah.
……
“Diwa! Kaukah itu.. !” sebuah suara keras mengagetkanku yang tengah berjalan pelan menyusuri jalan pulang.  Hani berlari menghampiri dengan sebuah payung tergenggam erat ditangannya. Dan memayungiku yang mulai menggigil kedinginan.
“Berpayung dalam hujan, berlindung dari rindu yang menderas”
 “Harus kubilang berapa kali kau itu sudah dewasa, masih juga suka mandi hujan. Nanti kau sakit. Kau kan tau, orang dengan golongan darah B sepertimu ini sangat rentan terhadap penyakit. Dan, hujan ini salah satu musuh bebuyutan tubuhmu, bukan..!” serunya keras ditelingaku.
Hani, temanku yang satu ini sudah biasa bersikap over-perhatian seperti itu. Jadi aku tidak heran dan terharu dengan gaya heronya menyelamatkanku dari hujan yang sesungguhnya tak jadi masalah bagiku. Hanya jarak sekitar 200 M dari kampus dan rumahku.
“Hey, aku bukan mandi hujan. Aku hanya bosan menunggumu.Katanya kau akan menjemputku 5 menit lagi. Tapi kutunggu-tunggu lebih dari 6 menit, kau belum datang juga. Hujan, dan..Aku lapar. .”
“Hanya telat 1 menit. Dasar kau ini. Hmm..jangan bilang makan es krim lagi, bukankah itu salah satu pantangan makan orang dengan golongan darah B?”
“…berhentilah mengoceh tentang golongan darah B-ku. Pengecualian untuk yang satu ini ya. Lagian…aku dibelikan Orien saat sedang menunggumu diparkiran kampus, Tiramisu. Mana mungkin ku tolak, Hani…”
“kau terima dan makan begitu saja es krim dari Orien? Kau yakin es krim itu tidak ada apa-apanya? Aku curiga, dia memantrai es krimmu..setauku, dia suka kau, Diwa. Ah..sungguh, kenapa Orien mesti suka cewek aneh sepertimu” hani melirikku dengan tatapan yang sama anehnya dengan kata-kata yang diucapkannya.
“dengan bismillah..aku yakin mantra-mantra itu akan lenyap, Han. Hehe…”
Taraa…kita sudah sampai. Kau masih mau memayungiku? Terimakasih ya. Aku menyayangimu, teman baikku..^_^
“eh, tidak. Dasar Diwa Panduga! Aku langsung pulang ya. Ada sesuatu yang harus ku kerjakan. Da..daah….
“hati-hati, Hani..!”

Ah..Hani. Jaga dia baik-baik, ya Tuhan……

………………………..
Hani,
Kau tidak tau.. betapa aku menyukai hujan. Seperti aku menyukai……………hmm.
Karena, setiap kali melihat hujan, selalu saja ingatanku tentangnya banjir seketika. Begitu derasnya rindu ini membasahiku.
Hani, kau juga tak pernah mau tau kenapa aku suka hujan.. Karena hanya dalam hujan, ku temukan tawa dan tangis menjadi satu. Hani….

Ku pikir, kau yang terlalu benci hujan. Dan tak pernah mau menceritakan alasannya. Aku penasaran sekian lama.
………………..
Disudut sana. Dalam perjalanan pulang kerumahnya. Hani berlari. Membuang payungnya begitu saja. Dan… menangis. Kali ini membiarkan tangisnya menyatu bersama sisa-sisa hujan. Gerimis.
Ingatannya kembali pada satu masa. Saat dimana Faraz memintanya menunggu kesiapannya membingkai hati untuk kesekian kalinya setelah hadir dan menghilang untuk kesekian kalinya juga.
Hani sepi dan menunggu dengan kesetiaannya. Tapi ia lelah, dan berkata.
“Aku ingin kamu menghilang dari kehidupanku..boleh ya?
Atau, kamu harus benar-benar ada untukku, bukan cuma bayang semu...”
"Sekarang aku nyata dan ada dihadapanmu, bukan..?Aku milikmu seutuhnya. Hujan ini jadi saksinya…
Jika aku pergi lagi, karena suatu sebab..apakah kau akan berhenti menyukaiku?”

“Berhenti memikirkanmu saja aku tidak bisa..
Apalagi harus berhenti menyukaimu....”

“owh…benarlah. Kau wanita yang tepat untuk hidupku, Hani..”

Sungguh alay. Memang.

Mereka berlari, menebus dan menari dalam hujan.
Dari waktu kewaktu…mereka jalani bersama dalam cinta kasih. Sampai pada suatu ketika, Faraz menghilang dalam kesibukan ini-itunya. Tau-tau kabar beredar. Faraz telah menikah.
Betapa hancur hati Hani. Gadis malang.

Dan aku tak akan pernah tau semua ini, jika tak kutemukan diary-nya dibawah bantal saat aku mengobrak-abrik kamarnya mencari rubik-ku yang ketinggalan kemarin sore. Dan saat dia tak ada dikamarnya.
Aku sedih saat membaca semuanya, aku baru tau..
Tapi kenapa harus hujan. Kenapa hujan harus ikut mentragiskan kisah Hani… uggh…

Teruntuk…Faraz!

“Dulu, kusebut kau cinta..
karena aku sejalan dengan hatimu yang mendamaikan jiwaku.
Kini, kusebut engkau luka,
disaat kau tak pedulikan lagi rasa ini..
mengabaikan setiap rasa yang tak henti kuberi…
Jika itu yang kau mau, baiklah..
Esok tak ada lagi rindu yang akan memujamu,.
Sampai kapanpun, engkau kusebut luka....”

* I wrote this for you dear..
i need you to understand something..



Tidak ada komentar:

Posting Komentar